Live-in di Dusun Kecitran bersama Zare Indonesia

Hai, pengunjung blog ini! Udah hampir sebulan aku nggak pernah nulis karena waktuku tersita oleh Sumer Project yang diselenggarakan oleh AIESEC UGM. Jadi, dua hari setelah aku secara resmi lepas tanggung jawab sebagai volunteer, aku memutuskan untuk “liburan” di Dusun Kecitran, Magelang, bersama Zare Indonesia. Sejak aku memutuskan untuk mengikuti akun Zare setelah melihat postingan mereka soal beberapa hasil panen yang dijual, aku selalu menunggu dan berharap sekali bisa mengikuti live in. Terlebih, aku ingin mendapat interaksi dan pengetahuan lebih banyak tentang pertanian, walaupun itu sebenarnya bukan bidangku sama sekali.

Waktu mereka membuat instastory yang bisa menjadi tiket diskon biaya pendaftaran live in, aku langsung ikutan. Kupikir, aku tidak dapat sama sekali. Ternyata, aku dapat. Ya sudah, aku sekalian mendaftar. Dalam benakku, ada banyak yang mendaftar untuk ikut selain aku di live in kali ini.

Rupanya tidak. Waktu aku datang di titik kumpul, aku hanya melihat Tia, salah satu pengurus Zare. Saat aku ngobrol dengannya, aku baru tahu kalau sebenarnya yang mendaftar ada tujuh orang, termasuk aku. Sayangnya, yang jadi berangkat hanya aku dan seseorang bernama Sasti. Itu pun Sasti berangkatnya menyusul bersama Almas. Jadilah aku dan Tia duluan.

Selagi menunggu saatnya berangkat, aku sarapan. Di tengah sarapan, aku melihat ada mas-mas yang dari penampilannya akhi sekali: celana cingkrang berwarna coklat, kaus putih yang dibalut jaket Adidas, jenggot tipis, berkacamata, dan rambutnya pendek. Oh, paling temannya Tia di himpunan mahasiswa muslim, pikirku. Ternyata, dia juga ikut mengurusi live in ini dan ikut berangkat bersama aku dan Tia. Rupanya dia ikut berangkat. Mungkin dia yang bawa barang-barang, aku yang dibonceng Tia. Lagi-lagi, aku masih positive thinking. Untuk kedua kalinya, dugaanku salah.

“Din, nanti kamu dibonceng sama Abdur, ya,” kata Tia waktu kita akan berangkat.

“Oke,” jawabku. Dalam hati, aku terheran-heran. Ini bukan masalah aku yang enggan dibonceng lawan jenis (malah aku biasa aja), tapi biasanya orang-orang seperti mas-mas yang dipanggil Abdur ini sangat menjaga diri. Mereka sangat menghindari kemungkinan dekat dengan lawan jenis secara fisik.

Karena yang memboncengku ini sepertinya memiliki prinsip seperti itu, jadi aku berusaha keras untuk tidak mengenainya sama sekali. Aku juga nggak mancing dia ngomong karena aku nggak ngerti topik yang kita berdua bisa relate apa. Ternyata, malah dia lebih banyak ngomong dibanding aku dan aku yang malah menimpali. Dia juga filosofis, apalagi kalau sudah memasuki bahasan seputar mendaki gunung. Baiklah, dia anak gunung.

Perjalanan kami memakan waktu sekitar dua sampai tiga jam. Sampai di sana, pantatku terasa sakit karena kelamaan duduk di motor. Tapi, tidak apa-apa. Di sana, kami istirahat dulu di rumahnya Mas Suprat sekaligus menyiapkan properti lomba. Aku, Tia, dan Abdur baru mulai lombanya jam dua, sekaligus menunggu Almas dan Sasti datang. Lombanya sangat ramai, anak-anak pada heboh lomba, sementara orang dewasanya menonton. Habis itu, sorenya ada bagi-bagi makanan ringan di masjid. Lagi-lagi, anak-anak menggila, terutama anak laki-laki.

Malamnya, Aku, Tia, Almas, Sasti, dan Abdur bakar jagung dan bakso ikan. The corns and the meatballs were great. Aku sampai makan beberapa potongan baksonya. Habis itu, kami main Undercover sampai pukul 12 malam. Buat teman-teman yang belum tahu Undercover, sebenarnya Undercover itu hampir sama cara mainnya sama Werewolf, tapi beda sedikit. Selama permainan, aku merasa Abdur mirip dengan Agif cara mainnya (Agif adalah teman KKN-ku).

*

Tidak kukira, tengah malam di Kecitran itu lebih dingin daripada di desa tempatku KKN. Apalagi, rumah yang kami inapi adalah rumah kayu, yang temboknya berasal dari anyaman bambu. Aku sampai dua kali terbangun untuk ke masjid demi numpang pipis. Bodohnya, waktu aku terbangun jam 4 pagi untuk numpang pipis, aku nggak sekalian nunggu di masjid biar nggak kelewat subuhnya.

Oke, skip ke pagi hari. Jadi, sekitar jam 8 atau 9, kami pergi ke ladang untuk menanam tomat. Waktu kami menemani Mas Suprat ambil benih tomat, aku mendengarkan perdcakapan Almas dan Mas Suprat seputar tanaman panen. Terus, ada satu hal yang menarik perhatianku.

“Iya mas, jadi kalau tanaman panennya kekurangan air, dia akan lebih cepat berbunga karena merasa akan mati,” kata Almas. Lalu, dia menoleh padaku dan bertanya dengan nada bercanda, “Kamu sering merasa mau mati nggak?”

“Tiap hari malah,” jawabku tanpa pikir panjang. Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa kosong, seperti merasa kehilangan.

Kami kembali dari ladang jam 11-an, lalu ngobrol sama Mas Suprat sambil makan.

Basically, aku senang dengan kegiatan livein, di luar rasa kehilangan yang datang tanpa diundang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s