Pengalaman Dipasang Behel (Kawat Gigi)

Hai, para pembaca artikel ini! Sebelumnya, aku pernah menulis tentang hal yang perlu dipertimbangkan waktu mau pasang behel (kawat gigi cekat) dengan alasan fashion. Artikelnya berjudul Kawat Gigi untuk Tren. Di awal artikel itu aku juga sedikit bahas pengalamanku dibehel, tapi nggak banyak. Setelah sekian bulan lamanya, aku memutuskan untuk berbagi cerita tentang pengalamanku dibehel. Semoga pengalamanku ini bisa memberi insight untuk teman-teman yang akan dipasangi kawat gigi cekat (yang karetnya bisa diganti-ganti).

Waktu SD, aku sempat takut sekali ke dokter gigi untuk mencabut gigi susuku yang sudah goyah. Aku nggak tahu kenapa aku merasa sangat takut. Pada akhirnya, gigi susuku kembali mengakar ke gusi, berhadapan dengan gigi dewasaku yang tumbuh. Dokter gigi yang biasanya memang menangani gigiku yang tanggal menyarankan agar aku pasang behel (kawat gigi cekat) waktu aku berumur 13 tahun. Kata dokter, aku harus menunggu umurku 13 tahun karena diharapkan pada umur segitu gigi dewasaku sudah tumbuh semua (tidak termasuk gigi bungsu yang tumbuh setelah umur 17 tahun). Jadi, sampai aku memasuki umur minimal pasang behel, aku harus berpuas diri dengan gigi yang tumpuk-tumpuk dan kelihatan jelek itu.

Beberapa bulan sebelum umurku 13, ibuku membawaku ke dokter gigi yang direkomendasikan temannya ibuku. Kami menemui drg. Stefanus Setiawan, yang membuka praktik pribadi sebelah RS Tugu Ibu, yang berdiri di sebelahnya Giant di Jalan Raya Bogor (aku nggak tahu apakah dokternya masih beroperasi di sana apa udah pindah). Apakah waktu datang aku langsung dipasangi behel? Tentu tidak. Sebelum aku dipasangi behel, aku harus berulang kali ketemu dokternya untuk rontgen, membersihkan karang gigi, tambal, cetak model gigi, sampai cabut gigi. Iya, aku nggak langsung dipasangin. Alasan kenapa gigiku harus dibersihkan dan ditambal (karena ternyata ada yang bolong) adalah karena perawatan gigi menggunakan behel cekat itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar, membutuhkan bahan-bahan behel (kawat rangka, penyangga, hingga lem) yang sesuai dengan kenyamanan mulut, dan agar gigiku sudah berada dalam kondisi yang baik sebelum dipasangi behel cekat. Kalau ada poin tersebut yang tidak terpenuhi sebelum behel dipasang, bisa dipastikan kesehatan mulut dan gigiku terancam.

Di antara semua proses pra pemasangan, sesi cabut gigilah yang paling menyiksaku (karena ketakutanku juga sih). Rupanya, tidak hanya gigi susuku, yang waktu SD tak mau kucabut, yang harus diambil, tapi juga gigi lain yang tumbuh tak terduga dan dua pasang gigi gerahamku untuk memberi ruang pada gigi bungsu yang akan tumbuh bertahun-tahun kemudian. Totalnya, kalau tidak salah ada kurang lebih 6 atau 7 gigi yang harus dicabut. Aku harus bolak balik datang untuk mencabutnya. Setiap mau dicabut, pasti aku harus mengalihkan pandangan biar nggak melihat jarum bius gusinya. Waktu gusiku mau dibius, sudah pasti aku harus menarik napas dalam-dalam dan menahan rasa nyerinya. Waktu biusnya sudah mulai bekerja, bagian mulutku yang dibius terasa seperti kesemutan, kebas sekali, dan kemeng di saat yang bersamaan. Beberapa jam setelah dicabut, efek biusnya hilang dan rasanya nyut-nyutan dan mulutku bengkak sampai untuk buka mulut saja tak berdaya.

Setelah proses panjang itu, aku baru bisa dipasangin behel. Pas penyangganya ditempel ke gigi sih nggak masalah. Mulutku terasa agak pegal waktu karet yang berfungsi menahan kawat rangkanya itu sudah dipasangkan. Aku kesulitan berbicara atau makan setiap habis ganti karet. Belum lagi aku lebih sering sariawan gara-gara behel atau kadang penyangga behel di salah satu gigiku ada yang copot sampai harus datang lagi untuk direkatkan. Behelku dilepas waktu aku SMA kelas 1. Sebenarnya, aku harusnya pasang retainer (behel lepasan) setelah copot behel cekat selama sekitar 6 bulan, tapi aku yang sudah kebelet bebas dari behel memilih untuk tidak pasang.

Fast forward ke setelah gigi-gigi bungsuku tumbuh, aku mulai berpikir untuk pasang retainer kembali karena aku sudah ketambahan gigi baru. Akhirnya, waktu teman KKN-ku yang lagi koas dokter gigi menawarkan siapapun yang butuh perawatan kawat lepasan, aku langsung menghubunginya. Untungnya, aku sudah menambal gigiku yang bolong lagi waktu liburan.

Seperti sebelumnya, sudah pasti koas yang menanganiku harus mencetak model gigi untuk mengetahui rangka behel yang tepat dan harus membuat retainer yang bahan dan bentuknya cocok di mulutku. Waktu aku mulai pasang, lagi-lagi aku merasa sedikit terganggu karena ada sesuatu yang mengganjal. Butuh waktu tiga hari biar aku bisa menggunakannya tanpa merasa terganggu. Sudah pasti, setiap kawatku dikencengin aku pasti bakalan nggak bisa ngomong karena gigiku ditarik.

Jadi, itulah ceritaku dengan behel, baik behel cekat (permanen) atau behel lepasan. Semoga bisa memberi gambaran!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s