Lagu Lama

“Kakak, apakah anda selo?” tanyanya di chat.

“Malam ini? Aku lagi selo. Ada apa?” tanyaku balik. Apakah dia mau curhat? Atau dia mau beri kabar baik?

“Ini, temenku mau telpon.”

“Oke.”

Lalu, suara tersebut berganti jadi suara orang lain. “Halo, mbak. Saya X, temannya Y. Saya sedang punya usaha dan baru buka cabang di Jogja. Terus saya sempet ngobrol sama Y kira-kira siapa yang bisa diajak kerjasama (kira-kira gitu) dan Y nyebut nama mbak. Nah, saya kebetulan punya informasi bagus, nih, mbak. Kira-kira kita bisa ketemuan besok nggak ya?”

Wow. That escalated quickly. I thought she was a casual friend who only wanted to ask university stuff. Kujawab, “Oh, maaf mbak saya lagi nggak bisa karena besok lagi ada jadwal ke sekolah. Selasa juga.”

“Gimana kalau Rabu?”

“Emm, saya nggak bisa janji, soalnya saya ada agenda.”

“Kalau mbaknya bisa Rabu, saya bisa mencoba mengosongkan jadwal saya. Nanti ketemuannya sekitar dua jam, antara jam 12 atau jam 3.”

“Ketemuannya di mana mbak?”

“Kita ke Balai Kota aja dulu, karena kantornya deket situ.”

**

Merasa familiar kah dengan percakapan di atas? Kalau sudah dan kamu berakhir tidak terjebak, kuucapkan selamat. Kalau kamu terjebak tapi tidak merasa terjebak, aku harap kamu cepat sadar. Kalau kamu tidak (belum) paham, kamu beruntung datang ke sini, sebab aku mau cerita.

Waktu aku semester dua, aku pernah hampir diperangkap ke dalam jebakan skema Ponzi oleh teman fakultasku. Saat itu, aku hanya saling tahu nama dan jurusan masing-masing karena kami satu kelompok ospek fakultas. Kita tidak pernah bicara. Suatu hari, dia tiba-tiba ngechat aku dan minta aku buat nemenin dia pergi ke suatu tempat di hari Minggu. Aku tahu dia pasti punya maksud walaupun aku nggak bisa nebak. Karena aku terlanjur bilang aku kosong hari Minggu dan aku nggak bisa menggali info lebih lanjut, aku terpaksa menemaninya. Aku coba memancingnya, tapi dia tetap tidak mau cerita. Awalnya, kukira dia minta aku menemaninya mengerjakan tugas, ternyata tidak. Dia membawaku ke sebuah gedung hotel yang bahkan tidak terlihat seperti hotel sama sekali dengan sebuah “meeting hall” yang menurutku lebih layak disebut ruang salat dengan tambahan karpet tipis warna hijau dan papan tulis. Orang-orang yang berada dalam kelompok kecil–mahasiswa, pelajar, entahlah siapa lagi–ternyata juga harus memasuki + berdesakan di ruangan yang sama denganku untuk menjelaskan “informasi lowongan pekerjaan” dari upline sekaligus leader QNet. Mereka bilang, mereka hanya menyampaikan informasi pekerjaan yang mudah dan bisa dapat uang dengan mudah tanpa harus kerja keras, tapi yang mereka lakukan hanyalah memamerkan “kekayaan” yang mereka miliki di foto (rumah mewah, mobil) yang bahkan aku sendiri sangsi kalau itu betulan, pamer surat-surat legalitas yang tampilannya aja udah keliatan mencurigakan, hanya membicarakan tentang daftar jadi agen, terus rekrut orang rata kanan dan kiri sampai sebanyak mungkin (skema Ponzi), pamer bagaimana mereka bisa pergi ke luar negeri setiap bulan, dan merendahkan harga diri orang yang tidak termakan omongan mereka untuk join. Aku emosi sekali tapi aku diam. Kalau mereka memang representatif dari perusahaan tertentu yang lagi presentasi sekaligus buka lowongan kerja, masa sewa tempat aja nggak modal? Masa mereka nggak menjelaskan secara singkat perusahaan mereka itu bergerak di bidang apa, kalau di bidang jasa itu apa jasa yang ditawarkan dan kalau jual produk itu apa produknya, visi misi, sudah berapa lama perusahaan mereka berdiri, dan lainnya. Mana setelah aku diejek harga dirinya sekaligus mendengarkan omong kosong, aku masih harus diprospek hingga akhinya aku pulang dengan menangis. Aku sudah menulis cerita lengkapnya di Fraud and Its Fakeness. Kalau kamu sudah membaca cerita lengkapnya, kamu bisa balik lagi ke sini. Atau, kamu juga bisa menyelesaikan baca artikel ini sebelum baca artikel yang tautannya sudah kumasukkan.

Kupikir, aku hanya akan sekali saja bertemu sesuatu seperti itu. Ternyata, aku bertemu lagi dengan hal serupa. Tiga tahun setelah kejadian itu, aku mendapat pengalaman yang bisa kubilang hampir sama persis. Bedanya, kali ini yang menjadi “pembuka” bukan teman kuliah, melainkan temannya sepupuku. Kamu bisa membaca percakapannya di atas. Saat temannya ini sudah berbicara dengan cepat tanpa henti tentang dia punya usaha (entah itu apa usahanya), buka cabang di Jogja, dan tiba-tiba mau ngajak ketemuan untuk membagikan informasi, aku langsung teringat tentang pengalamanku. Aku tidak langsung mengiyakan ajakannya karena: 1) dia siapa? Kok tiba-tiba langsung cerita dia punya usaha dan baru buka cabang, 2) Usahanya apaan dulu nih? Alamat cabangnya di mana? Keliatan nggak kalau di jalan raya? Masa dia ngomong punya usaha tap nggak bilang usahanya apa, 3) lagi-lagi, dia siapa? Kok tiba-tiba bilang punya informasi dan mau ngajak ketemuan karena infonya katanya nggak bisa dijelasin lewat chat atau telpon. No, that’s not a smooth marketing. Dia tiba-tiba ngenalin diri sebagai temannya sepupuku lalu langsung cerita punya usaha entah apa dan yang lebih nggak masuk akal lagi adalah dia tiba-tiba mau ngajak ketemuan buat bagi-bagi info yang katanya nggak bisa dibagiin lewat chat atau telpon. Kalau dia memang punya usaha legal dan jelas itu usahanya bergerak di bidang apa (jasa/produk), berapa banyak cabang yang dimiliki kalau ada dan lokasinya di mana, apakah ada alamat jelas dan ciri-ciri kantonya, harusnya dia bisa menjelaskannya di telpon, bukannya cuman ngomong “saya punya usaha dan baru buka cabang di (sebut kota)”. Terus, kalau informasi yang dia bagikan itu tentang usaha yang jelas atau tentang event dan detailnya jelas, kurasa seharusnya dia bisa kasih summary kegiatan/usahanya, laman web atau media sosial yang bisa dikunjungi, dan kalau aku ketemuan, aku bisa memahami maksudnya.

Berhubung aku memang betulan sedang padat jadwal, aku punya alasan untuk mangkir kali ini. Sayangnya, kembaranku juga hampir dijebak. Dia cerita kalau dia datang untuk mendengarkan “informasi” yang diberikan oleh temannya sepupuku. Ternyata, kecurigaanku sejak awal terbukti benar. Temannya sepupuku merupakan antek-antek dari oknum bisnis skema Ponzi yang hendak meruntuhkan masa depan orang-orang yang akan dibodohi. Seperti yang sudah kuduga juga, oknum-oknum ini menghasut, membuat para pendengarnya merasa terluka harga dirinya kalau mereka tidak ikut daftar. Mereka menjanjikan kekayaan dan kemewahan, tapi mereka sama sekali tidak menjelaskan apa hubungannya dengan usaha jasa/produk mereka. Janji kemewahan itu hubungannya hanya dengan satu hal: piramida jahanam. Piramida yang membuatmu bekerja kesetanan merekrut downline sampai tidak ada lagi yang bisa kamu rekrut. Itu pun kamu belum akan mendapat uang cukup untuk hidupmu. Bullshit.

Menurutku, model bisnis seperti ini adalah omong kosong besar dan kejam. Top 1% di bisnis setan ini itu setara dengan jutaan orang yang merugi hartanya hingga ada yang dikejar-kejar debt collector. Aku lebih mending digaji UMR di bimbel/franchise produk makanan ketimbang menipu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s