Summer Project: Mahadana

Awalnya, sebelum liburan aku berencana untuk mendaftar internship di ACICIS. Tapi, terus aku tidak sengaja menemukan sebuah post tentang summer project yang diselenggarakan oleh AIESEC UGM. Ada empat kegiatan yang diadakan di summer project tersebut: Mahadana, Tommorowland, Jogjapreneur, dan Global Playground. Jadi, aku yang tadinya sudah menyiapkan CV dan surat lamaran urung mengirimkannya. Aku mendaftar summer project dulu dan menunggu pendaftarannya. Saat mendaftar, aku tidak punya harapan apa-apa alias nothing to lose. Kalau kau nggak keterima ya sudah (aku jadi bisa daftar intern), kalau keterima juga alhamdulillah.

Setelah aku mengisi formulir daring, aku mulai caritahu tentang Mahadana. Sayangnya, aku hanya tahu kalau acaranya akan diikuti oleh local volunteer yang diterima dan para pendaftar dari luar negeri. Highlight acara Mahadana juga nggak banyak. Aku nggak tahu apa yang dilakukan, apakah menyenangkan, dan lainnya. I had no idea, but I went on.

Waktu aku wawancara, aku diwawancara oleh seorang cowok dan seorang cewek. Aku lupa siapa nama pewawancaraku yang cowok (tapi aku ingat wajahnya, dia salah satu panitia pusat kegiatan ini), dan yang cewek adalah Alika. Aku dan Alika ngobrol-ngobrol sebelum wawancara dan waktu kubilang aku daftar Mahadana dan Tomorrowland, dia menampilkan ekspresi terkejut senang, sekaligus ekspresi yang menjadi clue bahwa dia terlibat di Mahadana.

Ternyata, aku diterima. Saat first gathering, aku baru tahu kalau Alika menjadi koordinator panitia Mahadana. Di saat yang sama, aku tidak kaget karena melihat reaksinya saat kubilang aku mendaftar Mahadana. Well, I have no idea about all this and I’m starting to get nervous, pikirku saat ada penjelasan tentang alur kegiatan. Tapi, aku belum merasa gugup sekali. Begitu juga pas locan volunteer dan panitia Mahadana kumpul di selasar Fakultas Psikologi UGM. Kulihat para panitia terasa begitu terbebani dengan kegiatan yang mereka emban dan berharap kegiatannya bisa segera selesai dengan baik. Once again, I had no idea about what’s gonna happen and the worst cases.

The real nervousness happens as soon as the event starts. Kegugupanku muncul ke permukaan saat aku harus benar-benar bertemu para partisipan dari luar negeri. Aku tidak menyangka akan ada sangat banyak orang dan aku tidak siap dengan percakapan ringan yang bisa mencairkan suasana. Aku bukanlah pencair suasana yang baik. Aku tidak pintar berbicara dan menemukan topik yang bisa memancing orang lain bicara. Terlebih, ternyata berbicara dengan banyak orang sekaligus dan harus bergantian menggunakan bahasa Inggris dan Indonesia mebuatku sangat lelah dan gugup. Berbicara dan ngobrol dengan sesama orang Indonesia saja kadang bisa jadi tantangan besar, apalagi dengan orang luar yang bahkan banyak dari mereka bukan penutur bahasa Inggris dan tidak semuanya berbahasa Inggris seperti para penutur asli. Jadi, pada akhirnya aku memperhatikan mereka, para partisipanku, dari jauh sambil merekam gambar untuk materi visual diary. Aku mulai mengamati dan menemukan hal-hal potensial dari mereka.

Sial, pikirku. Aku salah langkah. Tapi, aku nggak bisa mundur. Aku nggak punya banyak waktu sendiri.

*

13 Juli 2019

Hari ini kami, para partisipan dan local volunteer, mengikuti training of trainers Mahadana di Ruang Sidang 2. Seharusnya, acara bisa dimulai tepat jam sembilan pagi kalau saja banyak dari para partisipan ini yang datang tepat waktu. Sayangnya, banyak dari mereka yang telat. Kata para panitia Mahadana, mereka datang terlambat kemungkinan besar kesiangan karena kecapekan habis ngebolang setelah preparation seminar sehari sebelumnya. Sialan. Ingin kuteriaki telinga mereka dengan kata makian, tapi aku harus menahan diri karena orang-orang ini memiliki rasa penasaran dan jiwa bolang tinggi, hingga mereka ingin menjelajah Jogja. Maksudku, memang banyak orang Indonesia yang menganut paham jam karet, tapi sungguh menyebalkan sekali orang-orang ini datang terlambat padahal para panitia sudah datang sejam sebelumnya. Tapi…baiklah. Ini baru hari keduaku bersama mereka. Aku belum bisa menarik kesimpulan secepat itu. Sembari menunggu sesi pelatihan ini dimulai, kami menunggu di luar. Aku kaget waktu melihat Mbak Riyani dan Mas Abie jadi pembicara di projek sebelah. Mana lagi ternyata Mas Abie mewakili Project Child, organisasi non-profit yang belum lama ini membuka rekrutmen internship. Pas aku ngobrol sedikit, ternyata walaupun pendaftaran internnya sudah tutup, pihak Project Child kekurangan tenaga videografer dan Mas Abie memberi penawaran khusus buatku biar aku daftar di posisi itu langsung ke manajer medianya walaupun pendaftaran internnya baru aja lewat. Gas aja deh, pikirku. Padahal, sebelumnya aku mengurungkan niat untuk daftar intern di ACICIS maupun Project Child karena mau fokus di Summer Project aja. Ha. Ha. Ha. I’m such a loser and so weak against opportunities. Aku masih belum bisa ngerem seutuhnya. Dasar aku si banci kegiatan.

Waktu istirahat, aku dan Faiza tadinya hanya berencana menemani Hind untuk ikutan dua mas-mas yang lagi basketan. Tapi, setelah itu Tasnime ngekor dan akhirnya, selagi Hind main basket dengan mamas-mamas itu, aku dan Faiza ngobrol dengan Tasnime. Habis itu, Hind dan kedua mamas itu ikutan pembicaraan mereka dan kami membahas bahasa, termasuk perbedaan dialek bahasa Arab yang digunakan di Maroko, Mesir, dan Arab yang standar (kayak Standard English, British English, State English in America, dan segala aksen bahasa Inggris). Tasnime juga membeberkan kemungkinan rencananya untuk bolang ke kota lain seperti Surabaya atau Bali kalau memungkinkan karena ia hanya punya waktu sebulan di sini dan merasa harus mengoptimalkannya dengan bolang ke lebih banyak kota di Indonesia (and I was like, why do you bother to apply this project kalau niatmu mau bolang budaya ke kota-kota di Indonesia? Kenapa nggak ambil paket trip atau backpacking aja? Hal itu jauh lebih mudah dibanding kalau ikut projek tapi rebel).

Ah, tapi, sudahlah. Kukatakan saja agar dia bertanya pada Alika.*

14 Juli 2019

Welcoming party? Check. Preparation seminar? Check. Training of Trainers? Check. Setelah tiga hari berturut-turut para partisipan ini (aku sebagai partisipan lokal hanya ikut welcoming party dan training of trainers) berkegiatan, hari ini adalah hari libur mereka. Sebagian besar pergi ke pantai, dua orang pergi ke Kulonprogo, dan dua orang lagi baru akan datang hari ini. Aku sudah menolak ikut ke pantai semalam sebelumnya karena meluangkan waktu kalau sewaktu-waktu orang yang mengajakku kopdar betulan ketemu. Ternyata, tidak jadi. Akhirnya, aku pergi menemani Dea untuk menjemput dua partisipan yang baru datang.

Kami ketemuan di pintu timur Stasiun Tugu. Sebelum bertemu dengan kedua partisipan baru, aku dan Dea sempat membicarakan pengamatan sementara kami tentang para partisipan (alias edisi ghibahin para partisipan). Tidak lama setelah percakapan itu, mereka tiba. Karena kedua partisipan yang baru datang ini lapar, akhirnya kami memesan GrabCar ke The House of Raminten, yang kemudian jadi ke Raminten Cafe karena Raminten yang akan kami datangi sangat ramai. Di Raminten Cafe, kedua partisipan memesan makan dan minum, sementara aku memesan kopi susu hangat dan Dea memesan kopi susu dingin. Selesai makan, kami memesan GrabCar lagi untuk mengantar para partisipan ke rumah keluarga host mereka.

Jika driver GrabCar pertama itu mas-mas yang jarak umurnya sepertinya tidak terlalu dekat ataupun jauh dariku (tapi sepertinya sudah berkeluarga) dan terlihat begitu chill, maka driver GrabCar yang kedua ini kebalikannya. Saat mobil yang kami pesan itu mendekat, kulihat pengemudinya adalah bapak-bapak yang mungkin sudah akan (atau malah memang sudah menginjak) umur 50. Saat mobil bapaknya berhenti, kulihat dari ekspresi sekilas bapaknya bahwa bapak ini sepertinya tidak se-chill mas-mas yang tadi. Benar saja. Waktu barang-barang para partisipan sudah dimasukkan ke bagasi dan kami berempat sudah masuk, bapaknya malah berulang kali berkata kalau jarak antara Raminten Cafe ke rumah host partisipan satu dan rumah host partisipan dua itu jauh dengan nada yang jelas sekali kalau bapaknya enggan mengambil order kami dan kode biar dibatalkan. Aku geregetan sekali. Dalam hati aku sambat. Untungnya, karena Dea adalah orang asli Jogja dan bisa bahasa krama, jadi aku tertolong.

Ternyata, motif bapaknya enggan mengambil pesanan kami adalah: karena bapaknya merasa kalau jarak yang ditempuh itu setara dengan jarak bapaknya kalau ke Magelang dan bapaknya tidak habis pikir dengan hitung-hitungan Grab yang bisa memberikannya pendapatan sebesar 160 ribu sekali jalan ke Magelang dan cuma dapat kurang lebih 70 ribu di perjalanan itu. Ya mbok bilang aja gitu loh, kalau nggak mau. Kodenya bilang, “Maaf kejauhan, tolong di-cancel aja ya mbak,” atau apa kek (kayak kalo eug mesen Go-Ride gitu). Terus di perjalanan bapaknya juga sempat tanya aku dan Dea bisa bahasa Inggris dari mana, siapa dua orang yang kami temani, lalalala. Habis itu, bapaknya bertanya, apakah kami jadi guide dan dibayar untuk itu, kalau dibayar, apakah tarif perjalanan bisa naik, dan tetek bengeknya. Aku diam, lalu melemparkan kesempatan jawab ke Dea karena aku nggak tahu gimana jawabnya. Dea sepertinya agak emosi pas jawab pertanyaan bapaknya, tapi bener-bener ditahan. Aku baru sadar dia juga ngempet sambat pas dia nyolek aku buat ngecek chat-nya. Ternyata, kami sepikiran. Belum lagi, ketika kami masuk ke komplek perumahan tempat rumah yang akan ditinggali partisipan kedua ini berada, bapaknya bilang kalau pesan ojol di tempat itu sulit dan menawarkan agar pesan bapaknya di aplikasi biar bisa sekalian kembali ke tujuan masing-masing dan mematok harga yang sama dengan harga berangkat. Aku langsung ngecek Maps buat ngeliat di mana kita. Ternyata, kita ada di komplek perumahan yang letaknya setara dengan Jakal (jalan Kaliurang) KM 7. Anjir lah, batinku. Gua aja Go-car dari kos ke Superindo aja nggak nyampe semahal itu bangsat. Paling harganya cuman sekitaran 20 rebu. Ini mah namanya meras. Ya kali masa gua harus patungan bayar 35 rebu sama Dea cuman buat pulang dari sebuah tempat 4 kilo jauhnya dari kosan sementara gua bisa dapet 18 rebu pake Go-Car, setengahnya kalo pake Go-Ride. Tapi, untungnya Dea sudah duluan menolak halus “tawaran” yang memeras dari bapaknya. Lumayan, njir, duit 26 rebu bisa gua pake buat makan 2-3 kali.

Selesai dari menemani partisipan kedua ke rumah host family-nya, aku dan Dea duduk di balai RW untuk pesan ojol–aku pesan Go-Ride dan Dea pesan GrabCar. Kami menunggu bapak itu pergi jauh sebelum sambat. Aku dan Dea sama-sama kesal karena bapak itu ingin dibayar lebih untuk mengantar dan ingin morotin kami hanya karena bapaknya berpikir kalau kami bakalan kesusahan cari driver buat balik. Aku tidak tahu apakah bapaknya punya masalah keuangan atau apa di rumahnya, tapi aku kesal. I mean, padahal kami tidak pakai OVO, yang bisa jadi malah bisa bayar lebih murah. Kami bayar cash (ditambah Dea tidak mengharap dapat kembalian). Bisa-bisanya bapak itu mau mengambil keuntungan dengan cara begitu.

Oke, cukup marah-marahya. Aku akhirnya pulang dengan bapak driver Go-Ride. Sewaktu kami berada di lampu merah Kentungan, bapaknya bertanya ancer-ancer tujuanku. Kubilang pada beliau kalau tujuanku di selatannya masjid dekat Hotel Ishiro (yang sekarang jadi kosan cewek). Bapaknya terlihat mikir bentar, lalu seperti mengerti maksudku. Terus, bapaknya tanya untuk konfirmasi, apakah tujuanku dekat masjid yang baru dibangun. Aku langsung terbengong-bengong. Masjid baru? Emangnya di deket kosan ada masjid baru? Kok aku nggak tahu? Pada bapaknya, kujawab saja pokoknya di selatannya SDN 3 Caturtunggal itu ada masjid, terus di selatannya masjid itu.

Nah, ini bagian teranehnya. Waktu kami baru saja melewati sekolah dan masuk ke gang menuju kosan, di mana sebelah kirinya adalah masjid dan di kanannya adalah Graha Swakarya (plus jalannya bisa buat mobil papasan), bapaknya bilang, “Oh, iya ini masjid baru.”

Aku semakin bingung. Baru? Baru berapa lama? Tapi, aku belum menanyakan itu. Pertanyaan yang terlontar dari mulutku adalah, “Emang tadinya ini apa, Pak?”

“Rumah kosong, ini.”

Hah? Rumah kosong? Bukannya itu kosan sebelah, ya? Atau mungkin malah bangunan yang sekarang jadi rumah di sebelahnya Kos Amelia?

Pas aku turun dan mengembalikan helm, aku bertanya lagi, “Ini masjidnya baru berapa lama, Pak?”

Bapaknya melihat masjid dengan tatapan yang agak ragu dan menerawang, lalu menjawab, “Dua apa tiga bulan, ya?”

Keherananku memuncak. Sebenarnya, masjid mana sih yang dimaksud bapaknya? Masa sih, masjid yang udah ada sejak aku datang empat tahun lalu ke kosan ini sebagai penghuni sampai sekarang ini baru dua atau tiga bulan? Ngarang benar. Ya kali masa bangunan yang pernah aku, kembaranku, dan ayahku tumpangi untuk salat setelah menaruh barang dan pergi ke tempat lain di pertengahan tahun 2015 itu bukan masjid? Terus, kalau misalnya memang ini baru jadi masjid selama dua-tiga bulan, azan dan woro-woro anak TPA ini apaan? Ilusi? Orang tiap hari kalo lagi di kosan dengerinnya azan di depan kosan.

Terus, kubalas jawabannya, “Oooh, gitu ya pak? Soalnya, saya tahunya dari pas saya datang tahun 2015 dulu ini udah jadi masjid.”

Setelah aku mengembalikan helm, kuucapkan terima kasih ke bapaknya dan masuk ke kos.

Sumpah, hari ini adalah hari teraneh sekaligus ter-creepy yang pernah kudapat. Terseram kedua setelah dulu sekali aku dan teman-teman sekelompokku diikuti sekelompok anak alay yang sepertinya akan mencelakai kami di kelas 8 dulu.

*

Hari demi hari berlalu. Enam minggu terasa lama sekali bagiku, tapi akhirnya terlewati juga. Aku tidak mengerti apakah seluruh program yang berada di bawah naungan proyek musim panas ini punya bobot yang sama berat atau ada yang lebih berat, tapi aku merasa sangat lelah secara mental dan fisik. Pasalnya, aku tidak berpikir kalau kegiatannya lebih padat dari yang kutaksir. Mereka bilang 25 jam per minggu, tapi aku merasa lebih lelah. Belum lagi kami para babu lokal memiliki tuntutan untuk bisa berinteraksi lebih banyak dengan para partisipan dari luar negeri, yang memiliki perbedaan budaya dengan Indonesia (ditambah lagi tiap orang punya kepribadian masing-masing). Aku mencoba sebaik yang kubisa, tapi hasilnya aku merasa tetap seperti sampah. Aku masih kesulitan untuk membuat mereka dekat denganku. Aku yang tidak pandai ngobrol ini selalu dilanda panik untuk membuat percakapan tetap berlanjut. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Aku tidak tahu apa yang bisa membuat mereka tiba-tiba terbuka padaku. Aku tidak tahu. Tapi aku harus berbicara untuk membuat mereka merasa ada. Apalagi, mereka berasal dari negara-negara di mana bahasa Inggris bukanlah bahasa utama mereka, sehingga aku lebih mudah frustrasi dengan language barrier. Semoga aku menjelaskan kondisiku dengan baik di paragraf ini, sehingga bisa dimengerti.

Selama proyek ini berlangsung, aku mulai paham kenapa para panitia bagian Mahadana sangat ingin proyek ini selesai. Kepastian dari pihak partner yang tidak pasti, kendala tak terduga, local volunteer yang ilang-ilangan, dan exchange participant yang nggak semuanya kondusif (ada aja yang maunya ke Bali cuk, padahal lagi proyek), jadwal yang juga tidak pasti tapi terasa lebih padat, mengkondisikan attention span, dan dituntut jadi orang yang bacot kualitas yang bisa mancing partisipan dari luarnya buat ikutan bacot itu asli capeknya luar dalem. Aku harus selalu pasang fake persona dan fake burst of sunshine. Aku merasa aku seperti terus didorong untuk terlihat punya energi yang tidak ada habisnya, ceria setiap saat, selalu membantu dan ngobrol dengan partisipan, dan antusias meramaikan kegiatan. Aku antara senang dan menyesal tercebur ke dalam proyek ini, tapi aku harus memberikan performa terbaik yang aku bisa.

Hal yang paling menguras energi adalah ketika kami harus mengikuti school roadshow. Dari tiga sekolah, dua di antaranya sangat ekspresif dan antusias sampai waktu kami habis oleh mengkondisikan mereka. Kepalaku sampai cenat cenut dengan energi mereka yang tidak habis-habis. Ada yang manis dan ada yang hobi ke sana kemari. Yang membuatku heran tak habis-habisnya adalah baik sekolah negeri atau sekolah swasta (yang hanya menampung murid agama tertentu saja), aku selalu dapat pertanyaan spesial dari anak-anak ini ke para patisipan. Pertanyaannya adalah, “Kak, kak (nama partisipan) agamanya apa?”

Dude. Di antara semua pertanyaan yang mungkin ditanyakan, pertanyaan ini muncul. Aku bingung dan heran. Aku bingung karena aku nggak tahu cara jelasin ke anak-anak bahwa setengah dari partisipan tidak beragama, bahkan mereka tidak tahu konsep agama dan Tuhan. Aku juga heran, kenapa mereka harus tanya soal agama? Kalau mereka sudah tahu agama si partisipan, terus apa? Kalau nanya soal specialty di negara mereka (trivia, makanan, minuman, dan lain-lain) aku nggak masalah. Hal itu berlaku umum dan itu informasi yang bermanfaat bagi mereka kalau suatu saat mereka pergi ke negara itu. Sementara, agama yang dianut sama partisipan adalah hal pribadi mereka dan bisa berubah sewaktu-waktu, tidak akan memberi efek ke anak-anak ini–kecuali mereka bertanya kepercayaan yang mayoritas dianut di negara mereka apa (yang akan menjadi acuan bagi kemudahan beribadah anak-anak ini saat berkunjung ke negara tersebut).

Tapi, di luar sedikit rasa sedih, lelah, dan kecewa karena kenyataan di lapangan (aku tidak kecewa dengan harapan-harapan lain yang kupasang (karena aku nggak pasang tuntutan dan harapan di Mahadana) selain kepala yang masih banyak bertanya-tanya bakal seburuk apa kejadian di lapangan dan satu pikiran “Ah selo aja, ga usah terlalu dipikirin yang penting jalan dulu, lain-lain dipikir belakangan. Lagian cuman 25 jam per minggu apa sih beratnya?”), aku belajar banyak. Dari kunjungan ke museum (yang sangat banyak dan kontennya mirip-mirip), aku jadi belajar tentang wayang dan beberapa detail lain di kebudayaan Jawa, bagaimana mengkondisikan anak-anak dan bagaimana harus bersikap di depan anak-anak, bagaimana cara aku bisa berinteraksi dengan partisipan yang bukan penutur bahasa Inggris (sampai harus bisa me-rephrase pertanyaan agar dimengerti oleh mereka), dan mengenal sedikit demi sedikit kebudayaan negara asal partisipan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s