Letter #17: Untitled

: Mbak Lina, the bright star who died on the same day I turned 20.

Yogyakarta, 10 Juli 2019

Hai, Mbak. Apa kabar? Entah kenapa aku tiba-tiba jadi ingin menulis surat yang tak akan pernah sampai ke alamat rumahmu, karena ragamu sudah dipeluk Ibu Pertiwi. Aku menulis ini di posisi orang yang tidak begitu mengenalmu dan tidak merasakan guncangan emosional sedalam teman seangkatanmu, alias kakak-kakak tingkatku yang lain, saat menyambangi rumah keluargamu, yang waktu tempuhnya seharusnya bisa dicapai dalam waktu beberapa jam saja, tapi malah berakhir seharian. Tapi, percayalah mbak, aku ingin bilang kalau dirimu adalah orang terbaik yang bisa dikenang orang-orang di sekelilingmu. Aku juga mau sedikit cerita tentang apa yang kusaksikan di perjalanan dari kampus menuju tempat peristirahatanmu yang terakhir. Aku juga mau menulis surat ini karena aku merasakan ironi yang tidak akan orang lain rasakan.

*

Yogyakarta, 10 Mei 2017

Kubuka mataku. Hari itu, aku resmi berumur 20 tahun. Welcome to the jungle. Selamat, sebentar lagi aku akan dilanda quarter-life crisis. Hari itu, aku berangkat ke kampus dengan semangat lebih karena hari itu aku, Mas RG, dan mahasiswa lain dari berbagai prodi yang mengambil kelas karawitan Sastra Jawa akan ujian karawitan. Tentu saja, aku tidak punya firasat apapun.

Selesai kelas, aku turun dari lantai 4 Gedung Margono sambil melihat ponselku. Kubuka Instagram untuk membuka pemberitahuan, lalu ganti membaca pesan di LINE dan WhatsApp. Ketika aku melihat linimasa LINE, aku kaget saat melihat sebuah post Mas Gilang, kakak tingkatku yang lain, tentang Mbak Lina. Tidak kaget dalam artian syok yang mendalam, tapi kaget seperti ketika aku mendengar kabar Ari, teman sekolah dasarku yang cukup jahil dan aku tidak terlalu dekat, meninggal. Aku melihat fotonya terlebih dahulu sebelum membaca. Tumben seorang Mas Gilang unggah foto bertulisan di LINE, pikirku. Saat kubaca pesannya, sumringah yang menempel di wajahku luntur. Mbak Lina meninggal karena leukemia, dan ia baru tahu kalau penyakitnya sudah stadium IV 6 hari sebelum meninggal, yang artinya 6 hari sebelum hari ini.

Ironis sekali, pikirku. Hari itu, aku sumringah karena baru saja selesai ujian karawitan dan aku baru saja memasuki kepala dua, sementara seseorang yang lingkup sosialnya bersinggungan denganku meninggal di hari yang sama. Life is funny. Kemudian, kulihat ramai grup angkatanku bahas Mbak Lina, lalu ada yang bilang kalau ada perwakilan dari jurusan yang akan melayat ke rumah keluarganya. Aku mengajukan diri. Lalu, aku dihubungi Mbak Intan (yang saat itu menjabat sebagai admin jurusan) kalau aku harus kumpul di FIB pada hari yang disepakati, pukul 5 pagi. Kuiyakan saja.

Hari yang disepakati tiba. Aku, yang sudah pasang alarm, bangun untuk mandi dan salat subuh. Setelah itu, aku jalan kaki ke kampus untuk berkumpul dengan para perwakilan. Di jalan, aku bertemu dengan Mbak Mia, yang ngekosnya tidak jauh dari tempatku. Di sana, ternyata aku baru tahu kalau rombongan perwakilan ada sekitar 14-15 orang dan dibagi jadi dua: satunya ikut mobil fakultas dan satunya lagi di mobil pribadi. Waktu itu, aku berada di mobil fakultas bersama Mbak Intan, Mbak Desita, Mbak Mamen, Mas Tito…dan aku tidak ingat siapa lagi. Punto mungkin. Satu lagi…entah. Mas Gilang, sepertinya. Di mobil itu, aku lebih banyak diam dan mendengarkan cerita macam-macam, dari cerita Mbak Intan tentang dosen-dosen dan anak-anak mereka, cerita KKN Mas Tito, juga bagaimana Mas Rama tidak pernah keramas selama KKN, ikut tertawa di bagian yang lucu, lalu membicarakan Pak Adi yang duluan pergi ke tempat layatan pakai kereta (sekalian pulang karena dekat dengan kampung halaman), sampai sempat tertidur di jalan. Mobil satunya diisi oleh hanya anak-anak angkatan 2014 yang ikut pergi: Mbak Mia, Mbak Andin, Mbak Mima, Mbak Windy(?), Mas Ridho, Mas RG, dan Mas Andri. Aku tak tahu seperti apa ceritanya di mobil yang itu.

Aku sangat menikmati perjalanan itu walaupun aku sendiri tidak banyak bicara dan lebih banyak mendengarkan, juga memperhatikan pemandangan di kanan kiri jalan. Tapi, tentu saja perkiraan Mbak Intan yang tadinya kami sampai di rumah keluarga Mbak Lina siang hari dan sudah kembali ke FIB sore hari meleset. Jalanan memang kadang tidak bisa diprediksi. Tahu tidak? Malahan Pak Adi yang berangkatnya lebih siang dari kami sudah sampai lebih dulu ke rumah keluarga Mbak Lina dan melayat. Rombongan kami baru sampai di sana malam hari. Saat kami tiba, rumah itu tidak begitu ramai. Setidaknya, kurasa tidak seramai siang hari. Pihak keluarga menerima kedatangan rombongan kami, mempersilakan kami beristirahat sebentar, salat bagi yang salat, dan menjamu kami. Saat kami semua berada di ruang tamu, orang tua Mbak Lina bercerita tentang secemerlang apa diri Mbak Lina semasa sekolah dan bagaimana teman-teman dan guru sekolahnya begitu menyukainya, cerita tentang ruam-ruam biru yang tidak sakit kalau dipencet tapi sering terlihat, mimisan yang mulai sering terjadi…sampai akhirnya diagnosis mengejutkan datang enam hari sebelum kematiannya. Kating-katingku yang seangkatan dengan Mbak Lina juga balik bercerita tentang kecemerlangannya, bagaimana ia menjadi kandidat kuat dosen muda di jurusan, cerita tentang dirinya yang tetap positif dan berusaha di English Days walaupun sering sakit, mimisan-mimisan yang datang tapi dia tetap merasa baik-baik saja, dan potongan memori di kelas Hubungan Internasional. Waktu itu, Mbak Lina yang sakit-sakitan menerima prasangka dari dosen pengampu kelas tersebut, yang merupakan orang FISIPOL. But, it turned out that her accusation was wrong. Lalu, kami diantarkan ke makamnya. Di sana, aku tidak ikut menangis seperti halnya teman-teman seangkatannya, terutama yang perempuan. Tapi, ekspresi natural itu, juga cerita-cerita yang kudengarkan, terekam dengan baik di kepalaku. She was a good person, and I hope she died peacefully.

Kami tidak menginap di sana. Sekembalinya kami dari makam, kami ngobrol sedikit sebelum pamit. Perjalanan pulangnya tidak penuh dengan gelak tawa seperti sebelumnya, dan rombongan mobil fakultas melewati jalan yang banjir. Kami, rombongan mobil fakultas, sampai ke FIB pukul 5 pagi keesokan harinya. Sebuah trip sehari semalam yang menarik.

Sepulang dari FIB, aku tidur pulas.

*

Mungkin surat ini tidak penting bagi banyak orang, juga bagimu. Mungkin juga banyak teman-temanmu yang akan teringat tentangmu ketika namamu disebut dan mengenang lagi memori masa lalu. Tapi aku ingin dirimu tahu, Mbak, you were a good person when you were alive and you were remembered so when you died. People really cried when you died. I really mean it. I saw the trace of tears from sadness in your parents’ eyes. I saw those in your friends’ eyes too. Aku juga merasa tertohok dengan berita kematianmu…yang bertepatan dengan hari ketika aku menginjak 20 tahun.

So long, Mbak. May you have peace there in afterlife.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s