Idul Adha

/1/

Pisau itu terhunus ke kepala yang merengek minta diampuni nyawanya.

Ia memohon agar tidak dipenggal, tetapi pemegang pisau ingin melihat 

air mata merah yang konon sakral.

Lalu, terdengar: “Allahuakbar!”

Kulihat air mata merah itu menetes dari indera pengelihatannya.

Para penonton bersorak dan bertepuk tangan

—bersuka cita

/2/

Tak sengaja kudengar percakapan dua orang pria tak jauh dari tempatku.

“Bapak dapat bagian?”

“Iya. Akhirnya saya bisa memberi istri dan anak daging setelah berbulan-bulan tak mencicipinya. Bapak bagaimana?”

“Oh, milik saya itu di sebelah yang baru saja mati. Baru mau dipenggal.”

“Untuk bapak semua?”

“Tidak. Dagingnya saya bagikan juga untuk yang lain.”

“Air matanya?”

“Saya meminta pemenggal untuk memasukkanya ke dalam botol untuk saya simpan di tempat paling aman.”

/3/

Sekarang, giliranku untuk mati. 

Jogja, 26 Agustus 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s